PERBEDAAN PENAFSIRAN MENGENAI CUTI TAHUNAN PEGAWAI NEGERI SIPIL

Cuti Tahunan bagi Pegawai Negeri Sipil sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1976 dalam implementasinya menimbulkan perbedaan penafsiran terutama Pasal yang menyatakan Pegawai Negeri Sipil yang telah bekerja sekurang-kurangnya 1 (satu) tahun secara terus menerus berhak atas cuti tahunan.

Penafsiran pertama:

Misalnya bagi seorang Pegawai Negeri Sipil yang mengambil cuti tahunan untuk tahun 2009 sebanyak 12 hari kerja terhitung 1 Agustus 2009.berarti nanti pada bulan Agustus 2010, Pegawai Negeri Sipil tersebut baru bisa mengambil hak cutinya dengan alasan bahwa antara bulan Agustus 2009 sampai dengan Agustus 2010, genap sudah 1 (satu) tahun masa kerjanya.

Penafsiran kedua.

Pegawai Negeri Sipil yang mengambil cuti Tahunan pada tahun 2009 bulan Agustus, boleh mengambil cuti tahunan pada tahun 2010, tanpa harus menunggu sampai bulan Agutus 2010, akan tetapi berhak mengambil cutinya pada bulan apa saja, asalkan masih dalam tahun 2010.

Menurut penulis, sependapat dengan penafsiran kedua, dengan alasan :

1.      Bahwa yang dimaksud cuti tahunan adalah cuti tahun berjalan yaitu dari bulan Januari sampai dengan Desember.

2.      Bahwa perhitungan masa kerja satu tahun penuh adalah perhitungan masa kerja Riil. Perhitungan masa kerja Riil ini biasanya diatur dalam peraturan kepegawaian yang diperuntukan bagi calon pegawai yang akan menjadi Pegawai Negeri sipil dengan masa percobaan paling lama 2 tahun sebagai Calon pegawai Negeri Sipil, atau perhitungan Riil masa kerja yang diperuntukan untuk Kenaikan Gaji Berkala, atau Perhitungan masa kerja untuk kenaikan pangkat Sedangkan perhitungan masa kerja satu tahun dalam perhitungan cuti, sebagaimana maksud Pasal 4 (empat) sudah nyata telah diutarakan dalam penjelasan Pasal tersebut dalam Buku Himpunan Peraturan Kepegawaian Jilid

II halaman 373 (atau yang popular disebut buku Merah) yang isinya sebagai berikut:

“Yang berhak mendapat cuti tahunan adalah Pegawai negeri Sipil.termasuk calon Pegawai Negeri Sipil yang telah bekerja sekurang-kurangnya 1 (satu) tahun secara terus menerus” Yang dimaksud dengan bekerja secara terus menerus adalah bekerja dengan tidak terputus karena menjalankan cuti di luar tanggungan Negara atau karena diberhentikan dari jabatan dengan menerima uang tunggu (lihat penjelasan Pasal 4 buku Merah. Jilid II. Halaman, 373).

Demikian kutipan  artikel yang ditulis oleh Masri Olii, S.Ag,MH, Hakim Pengadilan Agama Tahuna (Mantan Kasub Bag Kepegawaian Pengadilan Tinggi Agama Manado Tahun 1997-2001). Artikel terlampir TELAAH CUTI

Untuk melengkapi penadapat tersebut dapat ditambahkan pula bahwa mayoritas pegawai negeri sipil yang berada di kota besar melakukan cuti tahunannya pada hari raya Idul Fitri. Sudah kita bersama bahwa hari raya tersebut jadwalnya selalu maju sekitar 10 hari di tiap tahunnya. Ini berarti cuti tahunan yang dilaksanakan oleh pegawai yang bersangkutan dalam  waktu belum 1 (satu) tahun atau mengikuti penafsiran yang kedua (cuti dapat dilaksanakan kapan saja asal dalam tahun yang berkenaan).

Selain itu jika penafsiran pertama diterapkan secara konsisten, maka dalam pelaksanaannya akan mengalami kesulitan. Misalnya seorang PNS mengambil cuti tahunan yang berakhir pada 31 Desember 2009, maka di tahun 2010 PNS tersebut tidak mengambil cutinya karena harus menunggu setahun kemudian (tahun 2011). Dan Bagaimana pula jika seorang PNS yang akan menggunakan waktu cuti untuk keperluan pribadi yang dijadwalkan sebelum setahun dari cuti tahun sebelumnya.@swn

zp8497586rq